Kota Lama Kawasan Bergaya Eropa di Semarang

Kota lama adalah sebutan untuk sebuah kawasan di Semarang yang berdasarkan sejarahnya, pada sekitar abad 18 menjadi pusat perdagangan. Kawasan tersebut dulu disebut juga Outstadt. Luas kawasan ini sekitar 31 Hektar. Dilihat dari kondisi geografi, nampak bahwa kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga seperti kota tersendiri, dan mendapat julukan “Little Netherland”.

Hingga sekarang pun kawasan Kota Lama masih seperti kawasan “tersendiri”, karena arsitektur dan tata kotanya yang bergaya Eropa dan cukup berbeda dengan kawasan lain. Beberapa bangunan masih tampak megah berdiri dan dipakai untuk berbagai keperluan, baik itu perkantoran, resto, maupun fungsi lainnya.

Keindahan Kota Lama tentu hanya ada di Semarang, beberapa kota lain memang memiliki kota peninggalan Belanda, namun tidak sebesar Kota Lama Semarang. Sebagai kawasan bersejarah, tentu banyak yang bisa dipelajari dari kota lama. Bagaimana tata sosial, arsitektur bangunan, dan budaya pada saat itu, tentu akan menarik banyak orang untuk mengunjungi Kota Lama Semarang.

Untuk mengunjungi Kota Lama juga sangat mudah karena lokasinya berada di tengah kota Semarang. Jika kita jeli, titik nol kilometer Semarang berada di Kota Lama ini, tepatnya di depan Kantor Pos Besar. Angkutan umum juga banyak yang melewati Kota Lama, karena lokasinya juga berada di dekat Pasar Tradisional Terbesar di Semarang yaitu Pasar Johar.

Kota lama menjadi salah satu tujuan wisatawan yang berkunjung ke Semarang, berbagai komunitas juga sering memilih kota lama sebagai tempat untuk berkumpul. Biasanya pengunjung memilih untuk memulai perjalanan dari depan Gereja Blenduk. Selain karena letaknya di tengah, gereja ini masih terawat dan digunakan, di depannya juga ada halaman luas untuk memarkir kendaraan. Taman Srigunting yang ada di depannya  juga sangat nyaman dan teduh.

Di dekat Gereja Blenduk ada Gedung Marba, meski kurang terawat gedung ini masih tampak indah, sehingga sangat menarik untuk menjadi latar belakang wisatawan yang ingin berfoto. Nama Marba sendiri berasal dari ‘Marta Bajunet’ seorang pedagang dari Timur Tengah yang merintis toko serba ada pertama di kota Semarang.

Berdampingan dengan Gedung Marba ada dua tempat makan yang cukup terkenal, yaitu Sate Kambing 29 dan Ikan Bakar Cianjur, kedua tempat makan tersebut selalu ramai pengunjung. Jika Anda telah selesai menjelajah Kota Lama, Anda bisa mencoba berbagai hidangan di kedua tempat tersebut.

Dari Taman Srigunting Anda bisa menuju jalan Kepondang. Gedung pertama yang ditemui di pojok jalan, dahulu merupakan kantor surat kabar de Locomotif. Di Jalan ini pula dulu juga berdiri kantor milik salah satu pengusaha terkaya se-Asia Oei Tiong Ham, yang memang berasal dari Semarang. Gedung tersebut sekarang tampak mengenaskan, namun sisa-sisa kejayaan Oei Tiong Ham tampak dari besar dan megahnya gedung tersebut. Di Jalan ini pula ada gedung bertulis “Samarang 1866” dan ada lambang kota Semarang yang masih dominan dengan gambar singa.

Melanjutkan perjalanan ke arah Polder Tawang dan Stasiun Tawang, Anda bisa singgah sejenak menikmati Jembatan Berok yang legendaris itu. Selain itu juga banyak gedung-gedung bergaya Eropa selama perjalanan. Sedangkan Polder Tawang sendiri sebenarnya merupakan fasilitas baru yang dibangun untuk mengatasi rob di sekitar kota lama, namun cukup indah untuk dinikmati, apalagi saat hari mulai merambat gelap.

Saat kembali lagi ke Taman Srigunting, Anda juga bisa menyempatkan untuk melihat keindahan arsitektur bangunan komplek gereja Gedangan dan tentunya gedung cantik Marabunta. Spionase wanita cantik bernama Matahari yang di masanya pernah mengguncang dunia, dulu pernah menampilkan pertunjukan di Marabunta ini. Jadi, jika Anda ke Semarang tak lengkap jika tidak menjelajah keindahan Kota Lama.

(Visited 526 times, 1 visits today)