Semarang Indahnya Pertemuan Budaya

Mengunjungi Semarang adalah mengunjungi indahnya perpaduan budaya Barat dan Timur. Peninggalan budaya tersebut terlihat jelas pada berbagai bangunan bersejarah yang sampai sekarang masih bertahan dan beberapa masih digunakan. Mulai dari Lawang Sewu dan Kota Lama, Masjid Layur hingga Klenteng Sam Poo Kong dan masih banyak lainnya.

Sejarah panjang kekuasaan di Semarang sebagai kota pesisir dimulai sejak abad ke-7. Saat itu sebuah pesisir pantai bernama Plagota hidup seorang raja bernama Sana. Ketika kerajaannya hancur raja ini melarikan diri ke daerah Merapi. Dari raja inilah lahir Sanjaya, yang kemudian mendirikan kerajaan Mataram Kuno. Plagota tempat kerajaan tersebut, sekarang menjadi tempat pemakaman yang dikenal dengan nama Bergota, letaknya tidak jauh dari Simpang Lima.

Titik penting sejarah Semarang lainnya adalah kedatangan Laksamana Cheng Ho pada abad ke-15. Laksmana Cheng Ho yang nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao ini adalah seorang admiral Cina yang terkenal karena pelayaran damai yang dilakukannya dengan tujuan diplomasi ke berbagai kawasan di dunia menggunakan armada kolosal.

Persinggahannya Cheng Ho di Semarang sebenarnya tanpa kesengajaan, saat dia bersama armadanya melalui Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada Cheng Ho) sakit keras. Wang akhirnya turun di pantai Simongan, Semarang, dan menetap di sana. Salah satu bukti peninggalannya antara lain Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) serta patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong.

Budaya Tiongkok yang dibawa oleh Cheng Ho dan anak buahnya kemudian bersinggungan dengan budaya lokal dan terciptalah akulturasi (percampuran dua budaya atau lebih dan saling mempengaruhi) di berbagai bidang. Seperti dalam dunia tata boga kemudian lahir Soto Bangkong, Tahu Pong, dan Lumpia, yang merupakan perpaduan kuliner Jawa dan Cina. Dalam perkembangannya Keturunan Tiongkok bahu membahu dengan penduduk lokal untuk melawan penjajah Belanda. Dari sinilah sejarah Pecinan (kawasan Cina) kemudian lahir.

Sejarah terpenting Semarang juga terjadi pada abad ke-15, tepatnya pada tanggal 2 Mei 1547. Saat itulah Ki Pandan Arang II ditetapkan sebagai bupati pertama Semarang oleh Sultan Hadiwijaya dari Kasultanan Demak. Pada tanggal itu secara adat dan politis berdirilah kota Semarang. Nama Semarang sendiri lahir dari Ki Ageng Pandanaran I karena di tengah kesuburan desa yang dibangunnya tumbuh pohon asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang).

Kekayaan sejarah Semarang lain, juga terlihat dari berbagai bangunan peninggalan Belanda, terutama dari arsitektur kenamaan Belanda, Herman Thomas Karsten. Bangunan-bangunan tersebut antara lain Zustermaatscappijen de Semarang (sekarang Kantor PT KAI Daop IV) di Jl MH Thamrin, Djakarta LLyod Stoomvart Nederland (Kantor PT Djakarta Llyod/ persero) Jl Kutilang, Pasar Randusari, Pasar Johar, Semarang-Cheribon Stoomtram Maatscappij (Stasiun Poncol), Nederlansch Kerk (Gereja Blenduk), St Elizabeth Ziekenhuis (Rumah Sakit Elizabeth) dan Taman Diponegoro.

Yang paling monumental untuk selalu membangkit semangat warga Semarang adalah Tugu Muda. Tugu yang terletak tepat di depan Lawang Sewu ini merupakan tonggak perlawanan masyarakat Semarang dalam mempertahankan kemerdekaan selama lima hari berturut-turut, pada 16 – 20 Oktober 1945. Gagasan membuat Tugu Muda dicetuskan pertama kali pada 20 November 1949, namun baru pada 10 November 1951 pembangunan dimulai dan selesai pada 20 Mei 1953.

Tentu kekayaan sejarah Semarang tidak hanya terjadi di masa lampau. Jika dulu banyak berbagai pelayaran besar berlabuh di Plagota, kini kapal-kapal pesiar mewah secara rutin berlabuh di Pelabuhan Tanjung Mas. Beberapa pembangunan gedung monumental juga mewarnai pertumbuhan kota ini, seperti pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah dan Vihara Buddhagaya Watugong.

Pusat keramaian dan tempat yang menarik untuk dikunjungi juga terus tumbuh di kota ini. Seperti kawasan oleh-oleh di Jalan Pandanaran, pusat perbelanjaan di Simpang Lima, Pasar Semawis di Pecinan setiap akhir pekan, Pantai Marina, Kebun Binatang Mangkang, Museum Rekor Indonesia (MURI), Museum Jamu Nyonya Meneer, dan berbagai tempat lainnya yang membuat kota ini penuh warna.

Mengunjungi Semarang adalah mengunjungi indahnya perpaduan budaya Barat dan Timur. Peninggalan budaya tersebut terlihat jelas pada berbagai bangunan bersejarah yang sampai sekarang masih bertahan dan beberapa masih digunakan. Mulai dari Lawang Sewu dan Kota Lama, Masjid Layur hingga Klenteng Sam Poo Kong dan masih banyak lainnya.

Sejarah panjang kekuasaan di Semarang sebagai kota pesisir dimulai sejak abad ke-7. Saat itu sebuah pesisir pantai bernama Plagota hidup seorang raja bernama Sana. Ketika kerajaannya hancur raja ini melarikan diri ke daerah Merapi. Dari raja inilah lahir Sanjaya, yang kemudian mendirikan kerajaan Mataram Kuno. Plagota tempat kerajaan tersebut, sekarang menjadi tempat pemakaman yang dikenal dengan nama Bergota, letaknya tidak jauh dari Simpang Lima.

Titik penting sejarah Semarang lainnya adalah kedatangan Laksamana Cheng Ho pada abad ke-15. Laksmana Cheng Ho yang nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao ini adalah seorang admiral Cina yang terkenal karena pelayaran damai yang dilakukannya dengan tujuan diplomasi ke berbagai kawasan di dunia menggunakan armada kolosal.

Persinggahannya Cheng Ho di Semarang sebenarnya tanpa kesengajaan, saat dia bersama armadanya melalui Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada Cheng Ho) sakit keras. Wang akhirnya turun di pantai Simongan, Semarang, dan menetap di sana. Salah satu bukti peninggalannya antara lain Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) serta patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong.

Budaya Tiongkok yang dibawa oleh Cheng Ho dan anak buahnya kemudian bersinggungan dengan budaya lokal dan terciptalah akulturasi (percampuran dua budaya atau lebih dan saling mempengaruhi) di berbagai bidang. Seperti dalam dunia tata boga kemudian lahir Soto Bangkong, Tahu Pong, dan Lumpia, yang merupakan perpaduan kuliner Jawa dan Cina. Dalam perkembangannya Keturunan Tiongkok bahu membahu dengan penduduk lokal untuk melawan penjajah Belanda. Dari sinilah sejarah Pecinan (kawasan Cina) kemudian lahir.

Sejarah terpenting Semarang juga terjadi pada abad ke-15, tepatnya pada tanggal 2 Mei 1547. Saat itulah Ki Pandan Arang II ditetapkan sebagai bupati pertama Semarang oleh Sultan Hadiwijaya dari Kasultanan Demak. Pada tanggal itu secara adat dan politis berdirilah kota Semarang. Nama Semarang sendiri lahir dari Ki Ageng Pandanaran I karena di tengah kesuburan desa yang dibangunnya tumbuh pohon asam yang arang (bahasa Jawa: Asem Arang).

Kekayaan sejarah Semarang lain, juga terlihat dari berbagai bangunan peninggalan Belanda, terutama dari arsitektur kenamaan Belanda, Herman Thomas Karsten. Bangunan-bangunan tersebut antara lain Zustermaatscappijen de Semarang (sekarang Kantor PT KAI Daop IV) di Jl MH Thamrin, Djakarta LLyod Stoomvart Nederland (Kantor PT Djakarta Llyod/ persero) Jl Kutilang, Pasar Randusari, Pasar Johar, Semarang-Cheribon Stoomtram Maatscappij (Stasiun Poncol), Nederlansch Kerk (Gereja Blenduk), St Elizabeth Ziekenhuis (Rumah Sakit Elizabeth) dan Taman Diponegoro.

Yang paling monumental untuk selalu membangkit semangat warga Semarang adalah Tugu Muda. Tugu yang terletak tepat di depan Lawang Sewu ini merupakan tonggak perlawanan masyarakat Semarang dalam mempertahankan kemerdekaan selama lima hari berturut-turut, pada 16 – 20 Oktober 1945. Gagasan membuat Tugu Muda dicetuskan pertama kali pada 20 November 1949, namun baru pada 10 November 1951 pembangunan dimulai dan selesai pada 20 Mei 1953.

Tentu kekayaan sejarah Semarang tidak hanya terjadi di masa lampau. Jika dulu banyak berbagai pelayaran besar berlabuh di Plagota, kini kapal-kapal pesiar mewah secara rutin berlabuh di Pelabuhan Tanjung Mas. Beberapa pembangunan gedung monumental juga mewarnai pertumbuhan kota ini, seperti pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah dan Vihara Buddhagaya Watugong.

Pusat keramaian dan tempat yang menarik untuk dikunjungi juga terus tumbuh di kota ini. Seperti kawasan oleh-oleh di Jalan Pandanaran, pusat perbelanjaan di Simpang Lima, Pasar Semawis di Pecinan setiap akhir pekan, Pantai Marina, Kebun Binatang Mangkang, Museum Rekor Indonesia (MURI), Museum Jamu Nyonya Meneer, dan berbagai tempat lainnya yang membuat kota ini penuh warna.

(Visited 247 times, 1 visits today)